




Teh Hitam Jepang Wakocha (Zairai / Asamiya, Shiga)
Wakocha (teh hitam Jepang) dari Asamiya, Shiga, ini dibuat dari pohon teh zairai (pohon teh asli yang tumbuh dari biji) yang diwariskan sejak tahun 1912–1926.
Daun teh yang tumbuh di daerah pegunungan ini menghasilkan rasa yang tenang dan berlapis: rasa sepat dan rasa berisi yang pas berpadu di dalam rasa manis yang lembut. Saat diseruput, aroma daun teh menyebar perlahan, dan semakin diminum, rasa yang tertinggal setelah diminum terasa semakin dalam.
Meski berasal dari pohon teh Jepang, teh hitam ini dibuat dengan cara berpikir pembuatan teh yang diwariskan di Tiongkok dan Taiwan. Daun tidak dipotong kecil-kecil, melainkan dijaga bentuk utuhnya sebisa mungkin, sehingga aroma halus dan rasa manis lembut khas zairai muncul.
Asamiya, Shiga, dengan sejarah 1.200 tahun
Asamiya, yang terletak di Shigaraki, Kota Koka, Prefektur Shiga, adalah salah satu daerah penghasil teh terkemuka di Jepang, dengan tradisi pembuatan teh lebih dari 1.200 tahun. Asamiya termasuk dalam lima teh ternama Jepang, dan terutama dikenal karena aromanya, sampai disebut "Kaori Asamiya" (Asamiya yang harum).
Dikelilingi pegunungan, Asamiya adalah daerah sejuk dengan perbedaan suhu siang dan malam yang besar dan kabut yang mudah turun. Dasar tanahnya adalah lapisan Kobiwako, yang terbentuk oleh Danau Biwa purba yang dahulu membentang di wilayah ini. Tanah yang terbentuk dalam waktu yang panjang, dan iklim khas pegunungan: di lingkungan itulah teh Asamiya tumbuh.
Zairai, cerminan karakter tanahnya
Zairai adalah pohon teh yang tumbuh dari biji, bukan varietas tertentu yang diperbanyak dengan stek. Berbeda dengan teh varietas yang mewarisi sifat yang sama lewat stek, setiap pohon zairai memiliki karakter yang sedikit berbeda.
Kompleksitas yang lahir dari perpaduan daun-daun itu, dan rasa yang khas tanahnya. Silakan nikmati aroma yang tenang dan kedalaman zairai yang telah lama diwariskan di Asamiya, dalam secangkir teh hitam.
【Cara Menikmati Wakocha】
Daun teh: 6 g
Air panas: 180 ml
Suhu air: 95–100°C
Waktu seduh: 2 menit
Menyeduh dengan suhu tinggi memunculkan aroma dan rasa berisi daun teh. Pertama, nikmati tanpa tambahan apa pun. Rasakan rasa manis yang lembut, rasa sepat yang pas, dan aroma khas zairai. Untuk seduhan kedua, seduh sedikit lebih lama, dan rasanya akan lebih lembut dan tenang dibanding seduhan pertama.
Teh dari Wazuka, Kyoto: Sejarah 800 Tahun dan Kabut Pagi
Kota Wazuka terletak di bagian selatan Prefektur Kyoto. Tradisi pembuatan teh telah diwariskan di sini selama 800 tahun, dan daerah ini dinilai sangat tinggi dalam rasa, aroma, maupun bentuk daun (daun teh yang tergulung rapi dan lurus seperti jarum).
Wazuka adalah cekungan yang dikelilingi pegunungan, dengan perbedaan suhu siang dan malam yang besar, dan kebun tehnya sering diselimuti kabut pagi yang tebal. Kabut ini bukan hanya membuat pemandangan indah. Bagi daun teh, kabut ini seperti "payung alami".
Asam amino, sumber umami dan rasa manis teh, mudah berubah menjadi zat yang memberi rasa sepat dan pahit jika terlalu banyak terkena sinar matahari yang kuat. Namun di Wazuka, kabut pagi menyelimuti kebun teh dan melunakkan sinar matahari langsung, sehingga umami tetap terjaga di dalam daun. Perbedaan suhu yang lahir dari bentuk lahan, dan kabut pagi yang muncul karenanya: alam khas Wazuka inilah yang menumbuhkan secangkir teh yang lembut, kaya umami, dan tidak terlalu sepat.
【Cara Menyimpan Daun Teh】
• Simpan daun teh yang belum dibuka di tempat sejuk dan gelap, jauh dari sinar matahari langsung, suhu tinggi, dan kelembapan. Untuk penyimpanan lama, tutup rapat lalu bekukan, dan biarkan kembali ke suhu ruang sebelum dibuka agar mutunya terjaga.
• Setelah dibuka, pindahkan ke wadah yang kedap udara dan tidak tembus cahaya, simpan di tempat sejuk dan gelap, dan nikmati secepatnya (sebaiknya dalam satu bulan). Teh mudah menyerap bau, jadi hindari menyimpannya di dekat benda yang beraroma kuat.
Pilih opsi





Cara Menyeduh Teh yang Nikmat
【Takaran】
• Untuk 1–2 orang: daun teh 4–6 g / air panas 100 ml
◆Seduhan pertama
Suhu air: 50°C
Waktu seduh: 2 menit
Catatan: Diseduh perlahan dengan suhu rendah, hampir tidak ada rasa pahit dan sepat, dan Anda bisa merasakan umami (rasa gurih yang lembut) yang pekat.
◆Seduhan kedua
Suhu air: 60°C
Waktu seduh: sekitar 30 detik
Catatan: Dengan menaikkan suhu, Anda bisa merasakan aroma dan rasa sepat yang berbeda dari seduhan pertama, bersama umami yang lembut.
【Takaran】
• Untuk 1–2 orang: daun teh 5 g / air panas 160 ml
• Untuk 3–4 orang: daun teh 8 g / air panas 300 ml
◆Seduhan pertama
Suhu air: 85°C
Waktu seduh: 1 menit 30 detik
Catatan: Anda bisa merasakan aroma khas sencha, rasa pahit dan sepat yang segar, serta umami (rasa gurih yang lembut) dan rasa manis alami yang lembut.
◆Seduhan kedua
Suhu air: 85°C
Waktu seduh: sekitar 20–30 detik
Catatan: Dengan menaikkan suhu, rasa sepatnya sedikit lebih kuat dari seduhan pertama, dan Anda bisa menikmati rasa yang lebih ringan dan segar.
◆Seduhan ketiga
Suhu air: 95–100°C
Waktu seduh: sekitar 10 detik
Catatan: Diseduh singkat dengan air mendidih, Anda bisa merasakan rasa pahit dan sepat yang lembut.
【Takaran】
• Untuk 1–2 orang: daun teh 5–6 g / air panas 160 ml
• Untuk 3–4 orang: daun teh 8–10 g / air panas 300 ml
◆Seduhan pertama
Suhu air: 65°C
Waktu seduh: 1 menit 30 detik
Catatan: Diseduh dengan suhu rendah, rasa pahit dan sepat makin berkurang, dan Anda bisa menikmati sepenuhnya "ooika" (aroma khas teh yang dinaungi dari sinar matahari sebelum dipetik) dari kabusecha, serta umami (rasa gurih yang lembut) yang pekat.
◆Seduhan kedua
Suhu air: 85°C
Waktu seduh: sekitar 20–30 detik
Catatan: Dengan menaikkan suhu, Anda bisa menikmati rasa sepat yang berbeda dari seduhan pertama.
◆Seduhan ketiga
Suhu air: 95–100°C
Waktu seduh: sekitar 10 detik
Catatan: Diseduh cepat dengan air bersuhu tinggi, Anda bisa merasakan rasa pahit dan sepat yang lembut.


































